KOMUNITAS GPBSI

KOMUNITAS GPBSI

Home > Buletin > Kolom

Spesial - Interview Tamu: Dhiyana Batan

Views 83764 Votes 0 2012.09.02 07:07:58

r_diana 1.jpg


Pada hari Minggu 19 Agustus 2012, Gereja Presbiterian Bukit Sion Indonesia kedatangan tamu spesial dari Papua yang menghadiri kebaktian hari Tuhan. Dhiyana Batan adalah seorang pemudi dari Jayapura yang pernah mengikuti seminar Sejarah Penebusan yang diselenggarakan pada tanggal 21 April 2012 di Universitas Cendrawasih, Abepura, Jayapura. Berikut ini adalah sekilas wawancara Tim Website dengan beliau.

Apa keseharian Dhiyana di Papua?

Dhiyana bekerja sebagai Financial Advisor di Asuransi AXA Mandiri cabang Jayapura, Papua. Dhiyana adalah anak kedua dari tiga bersaudara, ia lahir dan dibesarkan di Jayapura, Papua. Bapak & ibunya berasal dari daerah Toraja tetapi mereka memutuskan untuk pindah ke Jayapura, tepat sebelum kelahiran Dhiyana. Sekarang Dhiyana mengikuti ibadah di GKI Petrus dan ikut ambil bagian dalam persekutuan Sahabat Joshua.

Papua seperti apa?

Papua memiliki banyak sekali suku yang mempunyai tradisi dan adat istiadat masing-masing, sebagaimana orang Toraja memiliki tradisi tersendiri yang berbeda dengan orang Jawa. Di Papua, dalam suatu daerah terdapat suku-suku lagi dengan kepala-kepala suku yang berbeda juga. Bahasa yang digunakan oleh tiap-tiap suku pun berbeda jadi tidak bisa menguasai seluruh bahasa Papua 100%. Tapi kita bisa memilih jenis bahasa yang ingin didalami.

Untuk bahasa Indonesia, orang Papua lebih nyaman menggunakan bahasa yang sederhana, disertai dengan logat mereka. Bila menggunakan bahasa Indonesia yang terlalu tinggi, bisa menjadi sulit untuk dipahami, malah bisa terkesan sombong karena mencerminkan tidak adanya keinginan untuk berbaur dengan grup lainnya.

r_suku asmat papua.jpg r_kids.jpg

Pulau Papua sangatlah luas, yaitu sekitar 300.000km2 sehingga terkadang harus menggunakan pesawat. Contohnya, untuk pergi dari Jayapura ke Wamena. Dari Jayapura ke daerah pedalaman pun tidak bisa dengan mengendarai mobil ataupun motor tetapi menggunakan mini bus atau dengan pesawat atau helikopter.

Rasa kepemilikan orang Papua sangatlah tinggi, para penduduk Papua berpendapat bahwa pendatang haruslah mengikuti keinginan ataupun tradisi yang berlaku. Tetapi terdapat pengecualian terhadap pendatang yang sudah lama menetap dan kerap berhubungan baik dengan penduduk sekitar, diizinkan untuk memanggil (kalau ibu-ibu) mama. Dari memanggil dengan sebutan "mama", ibu-ibu merasa dihormati. Kalau sebutan "pace" atau "mace" hanya untuk ukuran komunitas yang sebaya dan berteman dekat.

Untuk pendidikan di Papua memang masih tertinggal dari Jakarta, kebanyakan sekolah-sekolah negeri sangat kurang dalam kualitas pendidikan. Namun sekarang sudah banyak Sekolah-sekolah Swasta yang masuk ke daerah Papua dan mendominasi kualitas pengajaran yang lebih baik. Karena dunia yang terus berkembang, orangtua di Papua juga mulai sadar tentang pentingnya pendidikan bagi generasi muda, terlebih lagi bagi kalangan atas, untuk memberikan pendidikan yang terbaik bagi anak-anak mereka. Internet memang sudah umum di Papua, digunakan oleh orang-orang yang bekerja maupun kalangan murid. Namun, di sekolah sendiri masih lebih sering menggunakan buku pelajaran, menggunakan internet hanya saat pelajaran komputer saja. Barang-barang elektronik memang masih dianggap mewah dan hanya dimiliki oleh kaum menegah keatas tetapi sebenarnya harga barang elektronik juga sudah mulai terjangkau oleh orang-orang awam.


danau sentani.jpeg

Kriminalitas di Papua lebih sering terjadi pada malam hari. Salah satu faktor penyebab kriminalitas seperti anarki dan pemerkosaan adalah karena kalangan muda yang mempunyai kondisi keluarga yang kurang baik (seperti ayah yang menyebabkan konflik keluarga karena mengikuti kebiasaan mabuk dari orang-orang setempat) sehingga memilih untuk tinggal di jalanan. Karena tidak mendapat pendidikan orangtua inilah makanya mereka melakukan kegiatan anarki, mencoba narkoba, suntik-suntikan HIV/AIDS sehingga berkontribusi pada tingginya kondisi HIV/AIDS di Papua. Tragisnya, dari sekian banyak orang-orang yang tinggal di jalanan, mereka bukan hanya orang yang miskin dan tidak mampu saja tetapi juga orang-orang yang mapan dan berpunya.

Kebanyakan gereja-gereja di Papua membawakan khotbah tentang berkat, ajaran pembaptisan, bahasa roh dan sebagainya, bahkan ada yang jemaat-jemaatnya bisa berbahasa roh. Namun, masih jarang gereja yang memberikan pendalaman alkitab. Mayoritas gereja-gereja di Papua memilih pembaptisan selam, namun ada juga yang berpikir bahwa hati yang lebih penting sehingga cukup percik saja. Memang, dari berbagai macam sudut pandang yang berbeda ini terkadang terjadi konflik antar gereja, dan persekutuan-persekutuan pun pecah karena niat yang salah dari anggota-anggota yang bergabung (seperti untuk mencari pacar) dan karena pikiran anak muda yang belum diubahkan (masih egois, dan sebagainya). Dhiyana mengakui, konflik bisa terjadi karena tidak memperhatikan bahwa kita (seluruh gereja) sebenarnya satu yang hanya berlandaskan Firman Tuhan.

Respon Dhiyana dan orang-orang Papua saat dan setelah Seminar Sejarah Penebusan?

Dhiyana hadir dalam seminar Sejarah Penebusan di Universitas Cendrawasih pada tangal 21 April lalu sebagai panita marketing yang membantu penjualan buku-buku Sejarah Penebusan. Dhiyana bekerja sama dengan para pantia yang datang dari Jakarta sebagai penerjemah.

Awalnya, Dhiyana sama sekali tidak tahu menahu tentang apa, dari mana dan apa maksud dari seminar yang diadakan di Jayapura ini. Dua hari sebelum seminar, ia ditelepon oleh seniornya dalam persekutuan untuk diminta bantuan sebagai panitia dalam seminar ini. Ia dimintai tolong karena ia aktif dalam pelayanannya sebagai marketing dalam persekutuan Sahabat Joshua.

Karena Dhiyana hadir dengan pikiran yang berfokus untuk datang, melayani dan pulang, Dhiyana tidak terlalu menanggapi khotbah yang dibawakan pada saat seminar berlangsung. Dhiyana mengakui, dengan kasih karunia Tuhan ia menjadi tertarik untuk membeli kedua seri buku Sejarah Penebusan (Silsilah di Kitab Kejadian dan Pertemuan Yang Terlupakan) dan membacanya, padahal ia sangat tidak suka untuk membaca apalagi buku yang menceritakan silsilah.

Untuk respon orang-orang dan teman-teman yang ikut melayani di seminar, Dhiyana tidak tahu, tapi ia pikir akan sangat baik jika sebelumnya mereka diberitahu tentang apa isi dari buku-buku Sejarah Penebusan.

Apa yang membuat Dhiyana datang jauh-jauh ke Jakarta?

Tadinya, Dhiyana berencana datang ke Jakarta hanya untuk mengambil ijasahnya, tetapi ia berubah pikiran dan menambah rencananya dengan mengikuti Youth Summer Camp sambil mengisi masa liburannya yang diselenggarakan oleh Komisi Pemuda Timotius GPBSI. Dhiyana mendapat info adanya Summer Camp ini dari Ketua Pemuda Kevin Sunjaya yang waktu itu ikut melayani di seminar Papua. Dengan iman ia mendaftar dan membayar biaya retret 3 bulan sebelum acara. Walaupun sempat ada gangguan dari orang sekitar yang tidak setuju Dhiyana datang ke Jakarta dan juga rasa khawatir dari dirinya sendiri sebelum mengikuti retret, Dhiyana mengakui karena ada rencana Tuhan yang besar bagi dirinya ia bisa mengikuti retret ini dan mendapat kasih karunia.

Kesan setelah ikut YSC?

Saat mengikuti pelajaran-pelajaran di Youth Summer Camp, Dhiyana mengakui betapa berharganya dna pentingnya silsilah. Sebelumnya, ia sangat tidak tertarik dengan buku Sejarah Penebusan karena beliau tidak mengerti akan fokus dari buku tersebut ataupun betapa pentingnya buku silsilah ia. Saat membaca Alkitab dan kembali ke kitab Kejadian, ia tidak sabar untuk bisa segera melewati silsilah dan menyelesaikan kitab Kejadian karena tadinya ia sangat tidak menyukai pelajaran mengenai silsilah. Namun sekarang, Dhiyana sadar banyak hal-hal yang ingin ia temukan dari buku Silsilah di Kitab Kejadian dan ia juga mengakui bahwa ia tidak pernah tahu kalau ia mendapatkan mutiara yang begitu mahal yang sempat ia sia-siakan (buku Sejarah Penebusan).

Setelah acara Youth Summer Camp, Dhiyana mengikuti kebaktian di GPBSI dan kelas-kelas Bible Study. “Disana saya mendapatkan banyak sekali kasih karunia dan hal-hal yang baru yang tidak pernah saya ketahui sebelumnya," ungkap Dhiyana.


r_diana 3.jpg r_study.jpg 

Dengan siapa saja Dhiyana belajar Bible Study?

Dhiyana telah belajar dengan Msn. Hera, Msn. Yvette, Dk. Alida dan Ass. Pdt Harnold. Pelajaran-pelajaran yang didapatkan di antaranya: tiga Zaman, tujuh hari Penciptaan, Kebenaran dan Firman, Penciptaan dan Kejatuhan, awan dan masih banyak lagi kasih karunia yang Dhiyana dapatkan.

Dari sini Dhiyana sadar, makanan keraslah yang ia terima dan seluruh pengetahuan yang pernah ia dengar dan pelajari dari sejak sekolah minggu dulu hanyalah sebagian kecil saja. Sekarang ia menyadari dengan lebih dalam dan mengupas seluruh keingintahuannya mengenai Alkitab lewat Bible Study. Yang sebelumnya ia tidak terlalu memperhatikan tentang ular yang bisa berbicara di Taman Eden, sekarang ia mengetahui akan dalamnya peristiwa yang terjadi di dalam taman ini. Singkat kata, Dhiyana terkesima akan betapa banyak pelajaran yang ia dapat selama belajar di Jakarta ini dan perasaan dia berkobar untuk membagikannya pada kerabat-kerabat di Jayapura; sampai-sampai ia berkata: “andaikan Jakarta dan Jayapura ditempuh hanya beberapa jam saja dengan mobil, saya akan hadir di tiap-tiap pertemuan dan kembali lagi untuk membagikan firman yang didapat.” ungkap Dhiyana.

Harapan Dhiyana ke depannya?

Pastinya Dhiyana berharap untuk bisa terus belajar Firman lebih banyak lagi dan membagikannya pada teman-teman di Jayapura.

Untuk seminar Sejarah Penebusan, Dhiyana berharap dalam penyelenggaraan seminar (seminarnya membahas apa, tujuannya apa, penyelenggara dari mana) bisa diinformasikan lebih baik lagi ke depannya karena masih banyak yang belum mendengar informasi mengenai seminar, Ia mengaku dirinya sendiri pun belum tahu termasuk kelompok persekutuan kakaknya tidak tahu juga teman-teman kantornya tidak tahu. Ia juga memberitahu bahwa kebiasaan untuk mendengarkan radio sangat kurang di Papua karena biasanya jika sudah ada televisi, radio akan ditinggalkan. Karena kesibukan masing-masing orang, alhasil banyak ornag yang mulai tidak mendengarkan siaran radio.


Sebagai kesimpulan, lewat semua pelajaran alkitab yang Dhiyana terima selama waktunya yang singkat di Jakarta, Dhiyana mengatakan 99.99% pikirannya diubah dari yang tadinya dangkal sekali dalam pemahaman alkitab, ia menjadi lebih mengenal siapa Bapanya.

List of Articles
No. Subject Datesort Views

“Kebutuhan mutlak bagi mereka yang merindukan kehidupan iman yang lebih dewasa”

  • Apr 27, 2012
  • Views 87544

[Komik] Pemisahan dalam Kehidupan Abraham file

  • May 05, 2012
  • Views 86440

[Komik] Hari Minggu Pemuda Gereja Pyungkang file

  • May 14, 2012
  • Views 86474

[Komik] 5658 file

  • Jun 01, 2012
  • Views 87195

[Komik] Berapa tahunkah? file

  • Jun 08, 2012
  • Views 83563

Sikap dalam menghadapi adat istiadat zaman sekarang ini

  • Jun 08, 2012
  • Views 75479

Bahayanya gaya hidup modern zaman sekarang ini

  • Jun 08, 2012
  • Views 73909

Tubuh Bisa Sehat dengan Kesabaran

  • Jun 08, 2012
  • Views 77679

Buah dan Sayur Terkontaminasi?? file

  • Jul 01, 2012
  • Views 93986

A Tomato A Day Keeps The Doctor Away file

  • Jul 01, 2012
  • Views 88486

Bau Badan? Siapa Takut!

  • Jul 01, 2012
  • Views 77155

[Komik] Perjalanan Padang Gurun Bag.1 file

  • Jul 03, 2012
  • Views 81352

Pilek & Influenza file

  • Jul 23, 2012
  • Views 86296

Apakah Saya Berisiko Stroke? file

  • Jul 23, 2012
  • Views 89768

Anemia, Berbahaya? file

  • Jul 23, 2012
  • Views 92129

[Komik] Kisah Binatang-binatang yang naik bahtera Nuh file

  • Aug 01, 2012
  • Views 83404

Spesial - Interview Tamu: Dhiyana Batan file

  • Sep 02, 2012
  • Views 83764

I Love Yogurt file

  • Sep 02, 2012
  • Views 79209

Bawang Putih Hitam file

  • Sep 07, 2012
  • Views 85253

[Komik] Awan file

  • Sep 08, 2012
  • Views 79668
XE Login