KOMUNITAS GPBSI

KOMUNITAS GPBSI

Home > Buletin > Kolom

Artikel: Kehidupan Firman dan Doa

Views 39429 Votes 0 2014.11.20 13:44:53

Kehidupan

Firman dan Doa



Jika kita mengamati beliau, secara spesifik kita bisa menyadari makna dari hidup dalam Firman dan Doa. Jemaat di Gereja Pyungkang Che-il telah mengamati beliau selama lebih dari 10, 20, 30, bahkan 40 tahun, dan karena itu mereka sangat yakin bahwa seri Sejarah Penebusan yang telah menyingkapkan misteri-misteri di dalam Alkitab yang berusia ribuan tahun adalah hasil dari kehidupan beliau yang seperti demikian.


Lebih dari 50 tahun yang lalu, beliau mempertaruhkan hidupnya dan mulai berdoa di Gunung Jiri. Titik pemicunya muncul ketika beliau menjadi penginjil di usia 30-an. Beliau bertekad untuk mengasingkan diri di atas gunung ketika ia tidak mampu menjawab pertanyaan seorang pemuda: “Bagaimana darah Yesus bisa menyelamatkan umat manusia?”


Gunung Jiri terkenal dengan musim saljunya yang berkepanjangan, di mana salju bahkan tidak mencair bahkan di bulan Juni. Beliau tinggal dalam sebuah gua yang terlalu kecil untuk melindunginya dari salju dan angin. Beliau dikelilingi es selama 8 bulan dalam setahun, berada sangat dalam di puncak gunung dimana hawa dingin meliputi malam yang panjang dengan temperatur sedingin -20 sampai -30°C. Pengalaman hidupnya di Gunung Jiri membentuk rutinitas yang masih berlanjut sampai hari ini, yaitu beliau masih mandi menggunakan air dingin setiap harinya meskipun usianya sudah lanjut.


gaAtMPiXapYL.jpg

    Gunung Jiri


(red. Sewaktu di gunung) Makanan beliau adalah daun pinus dan beras mentah. “Aku mengambil beras dan merendamnya dalam air, dan setelah lewat 5 jam, butiran-butiran beras itu akan mengembang. Aku memakannya bersama daun pinus dan garam...” Beliau menghabiskan 3 tahun 6 bulan dan 7 hari, melintasi (di antara) hidup dan mati melalui hawa dingin yang tak terbayangkan, kelaparan, dan kesendirian yang mengerikan di atas Gunung Jiri. Hari ini, banyak generasi muda yang telah mengunjungi gua tersebut dengan harapan yang besar untuk merasakan apa yang telah beliau rasakan. Tapi, sebagian besar dari mereka menggeleng-gelengkan kepala dan pulang sambil berkata, “Aku tidak bisa tahan 1 malam pun”


Hanya melalui doa dan Alkitab! Inilah hidup beliau di atas Gunung Jiri. Beliau hanya bisa berdoa ketika matahari terbenam, dan ketika matahari terbit, beliau tidak melakukan aktivitas yang lain selain membaca Alkitab. “Aku menyaksikan matahari terbit sambil berdoa dan menyaksikan matahari surut sambil membaca Alkitab.” Di tengah kondisi yang ekstrim, beliau berpuasa selama 40 hari. Sungguh, ini adalah pertarungan yang mengancam nyawa.


Akhirnya, sebuah cahaya bersinar. “Allah adalah benar, dan semua manusia pembohong” (Rm 3:4). Beliau mengenang, “Setiap kali aku mendapat pencerahan melalui firman Tuhan, aku memukul dadaku sambil menyesali ketidaksadaran dan pemberontakkan terhadap dunia yang begitu indah. Sepertinya sebuah jalan rohani yang sempit dan terhalang telah terbuka lebar seperti jalan raya! Karena sangat sukacita, aku menari seperti orang gila di atas gunung.”


Di mulai dari titik ini, penulisan “Seri Sejarah Penebusan” pun dimulai. Beliau mulai menuliskan naskah di atas daun kudzu yang panjang dan menusuknya dengan batang semak-semak. Lalu beliau turun ke desa (Ham-yang) beberapa bulan sekali untuk mengambil kertas dan menyalin naskah terebut di kertas. Penduduk desa yang melihatnya mengira beliau sebagai tentara gerilya dari Korea Utara. Manuskrip-manuskrip yang semakin pudar dan rapuh, yang jumlahnya mencapai tinggi orang dewasa, masih ada sampai hari ini sebagai saksi dari hari-hari beliau tersebut.


Beliau telah menjalani sumpahnya dari Gunung Jiri untuk berdoa selama 3 jam dan membaca Alkitab selama 2 jam setiap harinya, sampai hari ini. Fakta bahwa beliau telah membaca Alkitab lebih dari 1.800 kali terlihat jelas melalui khotbahnya, dimana Perjanjian Lama dan Baru menjadi tersambung di dalam satu tema yg menyeluruh.


Khotbah beliau dimulai dengan Alkitab dan diakhiri pula dengan Alkitab. Apapun topiknya, beliau menembus ke inti khotbahnya melalui ayat-ayat Alkitab. Beliau terus menekankan, “ Kembali ke Alkitab.” Sejak Seri Sejarah Penebusan dipublikasikan, komunitas Kristen dan teologi setuju tentang daya tahan dari Gereja Pyungkang Che-il. Di atas dasar yang kuat itu berdirilah seorang gembala sejati yang waspada dalam menggembalakan domba-dombanya. Apakah tugas dari seorang gembala sejati? Dari seorang pemimpin gereja? Itu adalah menyelesaikan masalah rohani melalui doa dan Firman Tuhan. Semua ini dimulai dengan mengajarkan Firman melalui khotbah. Khotbah beliau sungguh-sungguh berkuasa. Kunci utama dari khotbah beliau yang berkuasa adalah khotbah tersebut dipersiapkan dengan sempurna dan penuh pengabdian. Beliau menyatakan bahwa beliau tidak pernah mengabaikan persiapan khotbah sejak beliau memulai pelayanannya. Ada prinsip yang tidak berubah dalam persiapan khotbah beliau. Meskipun beliau telah berkhotbah tak terhitung kali banyaknya dan sangat yakin akan status yg tak tertandingi dalam persoalan Alkitab, setiap kali beliau mempersiapkan khotbah, beliau melakukannya dari sudut pandang orang yang sama sekali belum mengerti apa-apa seperti seorang bayi yang baru dilahirkan. Persiapan seperti demikian mencerminkan tanggung jawab seorang gembala yang bertekad untuk tidak membiarkan 1 jiwa pun hilang. Memang, khotbah beliau melimpah dengan kasih karunia setiap kali mendengarnya, bahkan didengar berulang-ulang kali pun. Melalui teknologi komputer yang canggih yang dapat mencarikan semua ayat-ayat Alkitab, beliau selalu mencari setiap ayat secara langsung dari Alkitab, mencatat, dan meng-highlightnya. Alkitab beliau menjadi cepat rusak karena air mata, keringat, dan sentuhan beliau.


Yang kedua, yang membuat khotbah beliau semakin kuat adalah karena khotbah tersebut adalah kesaksian imannya sendiri yang terbentuk melalui pengalaman hidupnya. Kesaksian beliau yang begitu kuat tentang Tuhan yang hidup adalah mustahil tanpa inspirasi dan kepenuhan Roh Kudus!



“Seseorang tanpa kehidupan yang bersyukur tidak akan bisa sub-original manuscripts.jpg menyampaikan dengan penuh kekuatan pesan tentang
bersyukur. Khotbah mengenai
kejujuran yang disampaikan
seseorang yang tidak lurus
tidak akan menimbulkan inspirasi. Dapatkah seorang pengkhotbah tanpa hati nurani menyampaikan pesan yang begitu menggugah tentang hati nurani
yang
murni?”


Pesan beliau yg kuat dan jelas tak pernah gagal untuk membawa para pendengar ke dalam adegan tersebut dan menggugah mereka dengan dalam, setiap kali mendengarnya. Terkadang, kata-kata beliau akan menusuk dengan kuat ke dalam hati mereka seperti pedang tajam yang presisi.


Dan bagaimana dengan kehidupan doa beliau? Beliau mengaku, “Aku berdoa untuk jemaatku lebih banyak daripada mereka berdoa untuk diri mereka sendiri.” Penegasan demikian mengingatkan jemaat Gereja Pyungkang Che-il akan khotbah Nabi Samuel: “Mengenai aku, jauhlah dari padaku untuk berdosa kepada TUHAN dengan berhenti mendoakan kamu” (1Samuel 12:23). 


Selama 50 tahun silam hidup beliau, memperlihatkan bahwa dasar dari kekuatan dan otoritas beliau sebagai pelayan dan orang percaya tidak hanya timbul dari perkataan dan tulisan beliau sendiri, melainkan melalui gaya hidupnya.


50 tahun silam ini telah menjadi pemandangan sehari-hari di Gereja Pyungkang Che-il dimana para pendeta, penginjil dan staf gereja mengambil lap untuk membersihkan kamar mandi, memakai sekop untuk menggali tanah, atau memanjat atap bangunan untuk membersihkan dan memperbaikinya. Beliau mengajari mereka melalui kehidupannya sendiri yang “berpusat pada bait suci” dan pelayanan dimana seorang pemimpin tidak menjadi tuan atas orang lain, tetapi melayani orang yang membutuhkan dan diremehkan. Bahkan sampai sekarang, beliau hanya tidur selama beberapa jam setiap harinya.


Tak peduli malam atau subuh, beliau akan bangun dan duduk di mejanya kapanpun inspirasi Roh Kudus mendatanginya, dan beliau sangat sering menyiapkan khotbah atau menulis buku pada pukul 2 atau 4 pagi. Banyak orang-orang yang berada di dekat beliau telah sering menyaksikan beliau yang tiba-tiba langsung bangun dari meja makan dan pergi ke perpustakaan-nya; disana, beliau akan sangat tenggelam ke dalam Alkitab sampai-sampai mereka yang mengikuti beliau keluar masuk karena menunggu lama.


Jemaat telah melihat beliau bergerak dan bekerja tanpa henti untuk gereja dan jemaatnya selama beberapa dekade. Pengalaman demikian meyakinkan jemaat bahwa kesulitan dan kesengsaraan yang mereka alami tidak akan pernah terabaikan atau jauh dari pendeta mereka. Mereka juga menjadi semakin yakin karena beliau sendiri pun berasal dari generasi yang telah bertahan hidup melalui masa penderitaan besar dan kemiskinan yang berat. “Aku kelaparan selama 2 hari dan pergi untuk menginjil di suatu rumah, lalu aku merasa pusing dan hampir pingsan. Aku mengisi perutku dengan air keran, lalu aku melihat ada nasi di tempat makan anjing. Aku mengambil nasinya dan membilasnya dengan air keran dan cepat-cepat memakannya sebelum ada orang yang melihat. Setelah itu, tidak ada yang aku irikan lagi dari dunia ini, dan mataku kembali menjadi cerah.”


Usaha dan teladan hidup yang demikian telah memicu pertumbuhan gereja, hingga lebih dari 70.000 jemaat tanpa adanya masalah keuangan atau masalah pewarisan sampai hari ini. Saat ini, gereja beliau bisa disebut sebagai mega-church dengan 100 cabang gereja didirikan di seluruh dunia, termasuk AS, Jepang, Singapura, dan Indonesia. Gereja-gereja ini tidak dibangun dengan kekuatan gereja yang besar; tapi telah ditanam dan dirawat satu per satu dengan pengasuhan dan usaha yang teliti dalam masa-masa sulit yang beliau alami. Saat ini murid-murid beliau masih melayani dan bekerja dengan apa yang mereka lihat dan pelajari melalui teladan beliau.


“Aku mengasihi jemaat seperti anak-anakku sendiri.
Tujuan hidupku adalah
  berdoa dan mengajar. Tuhan telah memberikan aku kesehatan yang baik supaya aku bisa menyelesaikan tugas ini.”


Karena jemaat Gereja Pyungkang Che-il paham betul kesengsaraan, kesulitan, dan dedikasi yang di-emban seorang pendeta demi menyingkap firman Alkitab yang penuh misteri kepada dunia, mereka dengan sukacita dan rela hati bertumbuh menjadi teman sekerja beliau dalam iman.


Apakah berkat terbesar di bumi ini? Seorang percaya dengan kesadaran rohani yg mendalam akan menjawab, “untuk bertemu dengan gembala yang sejati”. Dengan ketekunannya yang menjaga perlombaannya di jalan yang lurus dan baik dari Firman sepanjang 86 tahun silam, buku-buku Seri Sejarah Penebusan yang masih tersisa pasti akan ditulis sampai selesai.



Sumber: champyungan.com (True Peace Magazine)

List of Articles
No. Subject Date Views

[Bulan Mei - Bulan Keluarga] Ayah dan Ibu Kita file

  • May 09, 2016
  • Views 16715

[Bulan April - Bulan Tugas Misi] Pelayan dari Perjanjian Baru file

  • Apr 13, 2016
  • Views 19126

[Bulan Maret - Bulan Doa] Pusatkanlah Pikiran dalam Doa file

  • Mar 09, 2016
  • Views 19093

[Renungan Harian] Injil Tertinggi, Kasih Tertinggi file

  • Feb 24, 2016
  • Views 23987

Komik 40 hari masa sengsara file

  • Feb 18, 2016
  • Views 29646

[40 Hari Masa Sengsara - Lent] file

  • Feb 10, 2016
  • Views 22962

[Bulan Februari – Bulan Pelayanan] Allah yang Telah Memilih Aku file

  • Feb 03, 2016
  • Views 22402

[Renungan Harian] Berlarilah Begitu Rupa file

  • Jan 29, 2016
  • Views 27878

[Renungan Harian] 'Hari Ini' file

  • Jan 22, 2016
  • Views 35135

[Bulan Januari-Bulan Ketetapan Hati] Gambarlah Peta Imanmu file

  • Jan 04, 2016
  • Views 20486

Pewarisan Iman - Edisi Khusus Bulan Penginjilan file

  • Jun 26, 2015
  • Views 28164

Artikel: Bagaimana Cara Kalian Belajar? file

  • Feb 11, 2015
  • Views 37270

[Photo Essay] BC atau AD? file

  • Jan 09, 2015
  • Views 33969

Doa Hana yang Dijawab

  • Dec 05, 2014
  • Views 30121

Artikel: Kehidupan Firman dan Doa file

  • Nov 20, 2014
  • Views 39429

Angka Kudus dalam Alkitab (bag. 2) file

  • Nov 07, 2014
  • Views 35233

Empat Macam Doa yang Memberikan Aroma yang Harum kepada Tuhan file

  • Oct 28, 2014
  • Views 38674

Angka Kudus dalam Alkitab (bag. 1) file

  • Oct 23, 2014
  • Views 37985

God Morning Bread: Mari Makan Madu dan Tetesan Madu file

  • Oct 23, 2014
  • Views 43207

Puisi Karya Milton: “Paradise Lost” file

  • Oct 03, 2014
  • Views 38699
XE Login